Selasa, 27 Juli 2010

KARTINI DALAM SELIMUT DUKA (Refleksi Perjuangan Kaum Wanita)

Oleh :
Anwar Djunaede*
Kartini
Habis Gelap Terbitlah Terang
Dua hal yang tak bisa terpisahkan. Kartini, sosok wanita yang menjadi ikon perubahan nasib kaum wanita Indonesia. Habis Gelap Terbitlah Terang, kumpulan surat-surat kartini kepada sahabat-sahabat Belandanya yang dikemudian hari dirangkum dalam sebuah buku fenomenal Door Duistermis tox Licht yang disusun oleh JH Abendanon, sahabat Kartini yang menjabat sebagai menteri (direktur) kebudayaan, agama dan kerajinan Hindia Belanda. Buku tersebut mengalami cetak ulang beberapa kali. Bahkan pernah diterjemahkan kedalam bahasa Inggris oleh Agnes L Symmers, Joost Cote menerjemahkan dengan judul “ Letter From Kartini, In Indonesian Femimist 1900-1904 ”. Kedalam Bahasa Indonesia diterjemahkan oleh Armijn Pane dengan judul “ Habis Gelap Terbitlah Terang”, Sulastin Sutrisno dengan Judul “Surat-surat Kartini, Renungan tentang dan untuk Bangsanya”, Pramudya Ananta Noer dengan Judul “ Panggil Aku Kartini Saja”. Buku yang berisi tentang cita-cita, impian dan idealisme seorang wanita anak negeri, rasa prihatian akan kondisi kaum, bangsa dan negerinya. Buku yang tidak sepopuler tokohnya. Buku yang susah ditemukan di toko-toko buku, perpustakaan. Buku ini menjadi langka di negerinya sendiri. Bahkan para pengagumnya pun sangat sulit untuk mendapatkannya. Bahkan ada yang belum pernah melihatnya selanjutnya menjadi pertanyaan bagi penulis “ Seperti apa mereka memahami Kartini ?”
Jika kaum wanita hari ini mampu mengenyam pendidikan seperti kaum laki-laki maka hal tersebut adalah nilai yang telah diperjuangkan Kartini. Nilai tersebut tergambar dalam suratnya.
“Kami, gadis-gadis masih terikat oleh adat-istiadat lama dan sedikit sekali memperoleh kebahagiaan dari kemajuan pengajaran. Untuk keluar rumah sehari-hari dan mendapat pelajaran di sekolah saja sudah dianggap melanggar adat” (25 Mei 1899).
Adanya persamaan antara laki-laki dan wanita dalam segala aspek kehidupan pun adalah buah dari pejuangannya sehingga wanita dapat berada dalam ranah publik dan sektor lainnya. Lalu sudah tercapaikah perjuangan Kartini ?
Jika Kartini masih hidup maka ia akan merasa sedih dan menangis melihat kaum yang yang telah diperjuangkan selama hidupnya. Banyak hal yang tidak sesuai dengan harapan dan cita-citanya. Begitu banyak permasalahan yang menimpa kaumnya.
Kasus free sex yang melanda remaja semakin tahun semakin meningkat. Para remaja putra dan putri pun yang seharusnya menjadi generasi penerus bangsa menjadi korban. Menurut Direktur Remaja dan Perlindungan Hak-Hak Reproduksi Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional Pusat (BKKBN) mengatakan hasil survei yang dilakukan salah satu lembaga, 63 persen remaja di Indonesia usia sekolah SMP dan SMA sudah melakukan hubungan seksual di luar nikah dan 21 persen di antaranya melakukan aborsi. Harian Republika terbitan 1 Maret 2007 menulis, ”Penyakit Menular Seksual Ancam Siapa Pun”. Dalam berita itu ditulis pula, ”Hampir 50 persen remaja wanita Indonesia melakukan hubungan seks di luar nikah.”. Munculnya istilah PSK (pekerja Seks Komesrial) menjadi hal yang sangat melukai hati Kartini. Lahirnya istilah tersebut secara tidak langsung memberikan justifikasi tentang pelacuran di negeri ini sekaligus menurunkan martabat kaumnya. Hal ini sangat bertentangan dengan nilai yang diperjuangkan oleh Kartini
Khasanah budaya bangsa ini pun telah banyak ditinggalkan oleh penduduknya. Lebih senang hidup ala ke barat-baratan. Tatakrama, etika dan sopan santun telah luntur dalam penduduk pribumi. Mereka lebih merasa bangga jika dikatakan lebih kebarat-baratan. Kartini dalam perjuangannya tak pernah menginginkan yang demikian. Dalam suratnya ia menuliskan
”Kami sekali-kali tidak hendak menjadikan murid-murid kami menjadi orang-orang yang setengah Eropa atau orang-orang Jawa Kebarat-baratan.” (10 Juni 1902).
Dalam hal cara berpakaian Kartini sangat bangga dengan budaya bangsanya. Ia sangat tidak setuju dengan cara berpakaian ala barat-baratan. Pada noni-noni Belanda (dari ibu jawa dan bapak Belanda) pada suatu pesta yang memakai pakaian yang tidak sopan (tidak beradab menurut Kartini), tertawa bebas, menari-menari liar di tengah pesta dan bergaul terlalu rapat dengan pria serta dipeluk disana dan disini. Menurut Kartini wanita-wanita tersebut seperti kehilangan harga diri dan jati dirinya sebagai wanita yang bermartabat dan terhormat. Lalu mari melihat kaum wanita saat ini, masihkah etika yang digambarkan Kartini sebagai budaya timur melekat dalam diri mereka.
Tehadap wanita karir yang bekerja di sektor publik dan melupakan tanggung jawab utamanya sebagai seorang pendidik generasi bangsa, Kartini pun sangat tidak setuju. Nilai perjuangan yang ia bawah sesunggguhnya ingin meningkatkan kecerdasan kaumnya sehingga mampu mendidik anak-anaknya dengan baik.
“Kami disini memohon pengajaran dan pendidikan anak wanita, buka sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak wanita itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi, karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih capak melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu pendidik manusia yang pertama-tama ” . (4 Oktober 1902).
Kenyataan yang ada didepan mata memberi warna lain. Tidak sesuai dengan warna yang diinginkan oleh Kartini. Pendidikan anak sepenuhnya diberikan pada sekolah. Pengasuhannya pun hanya paruh waktu, bahkan tidak jarang pengasuhannya diserahkan kepada pembantu rumah tangga.
“Ibulah yang menjadi pusat kehidupan rumah tangga, dan kepada ibulah terletak kewajiban pendidikan anak-anak yang berat itu: yaitu bagian pendidikan yang membentuk budi-pekertinya…untuk keperluan keluarga yang lebih besar, yang dinamakan masyarakat, di mana ia kelak akan menjadi anggotanya. Itulah sebabnya kami minta pendidikan dan pengajaran bagi anak-anak gadis” (4 Oktober 1904).
Kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang sering terjadi di negeri ini pun dipicu oleh adanya tuntutan persamaan hak dalam sektor kerja. KDRT biasanya terpicu oleh perselingkuhan yang terjadi sebab pasangan suami istri yang salah satunya menjadi tenaga kerja di sebuah kantor atau perusahaan atau TKI/TKW sangat rentan melakukan penyelewengan pernikahan. Ketika pasangannya pulang dari negara rantau, mendapat banyak informasi yang kurang baik dari tetangga atau keluarganya.Akibatnya, kata dia, terjadi perselisihan antara pasangan suami istri tersebut sehingga tindakan KDRT tidak bisa terelakkan.
Dalam hal keyakinan pun Kartini memilki perhatian yang besar. Ia merasa sangat bahagia mampu mengetahui kandungan Al Qur’an. Pertemuannya dengan KH. M. Sholeh bin Umar, seorang ulama besar dari Darat, Semarang, telah merubah pemikirannya. Pada saat Kartini mempelajari Al-Qur’an melalui terjemahan bahasa Jawa, Kartini menemukan dalam surat Al-Baqarah:257, Firman Allah SWT yang artinya:
“Allah pemimpin orang-orang yang beriman. Dia mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya. Dan orang-orang kafir pemimpin mereka ialah Thagut, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan. Mereka itu adalah penghuni neraka, merekakekal di dalamnya ”.

“Kyai, selama kehidupanku baru kali inilah aku sempat mengerti makna dan arti surat pertama dan induk al-Quran,yang isisnya begitu indah menggetarkan sanubariku.Maka bukan bualan rasa syukur hatiku kepada Allah Swt. Namun aku heran tak habis-habisnya, mengapa para ulama saat ini melarang keras penerjemahan dan penafsiran al-Quran dalam bahasa Jawa? Bukankah al-Quran itu justru kitab pimpinan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?” Tanya Kartini pada Kyai Sholeh Darat gurunya.
Hasil dari pendidikan agama yang membekas pada Kartini dapat terlihat dalam jawabannya kepada Nellie van Kol, seorang Nasrani yang berusaha membujuk Kartini berbelok ke agama Kristen tatkala Kartini menyampaikan penderitaannya berkaitan dengan pernikahannya “Yakinlah Nyonya, kami akan tetap memeluk agama kami yang sekarang ini. Serta dengan Nyonya kami berharap dengan senangnya, moga-moga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat umat agama lain memandang agama kami (Islam), patut disukai” (21 Juli 1902).
Pada tanggal 17 agustus 1902, dua tahun sebelum meninggal, Kartini menulis “ Sekarang ini kami tiada mencari penghibur hati pada manusia, kami berpegang teguh-teguh di tangan-Nya. Maka hari gelap gulita pun menjadi terang dan angin ribut pun menjadi sepoi-sepoi”.
Inilah bagian kecil dari perjuangan Kartini. Masihkah ada nilai perjuangan Kartini dalam lubuk kaumnya atau Perayaan hari Kartini setiap tahunnya hanya menjadi tradis bangs tanpa nilai dan makna dan membiarkan kartini dalam selimut duka melihat kaumnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar